Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan
berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran
tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan
keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan
kemampuan guru yang besesuaian.
|
Guru merencang
dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam
pembelajaran
|
Guru melaksanakan
KBM dengan kegiatan yang beragam, misalnya:
· Percobaan
· Diskusi
kelompok
· Memecahkan
masalah
· Mencari
informasi
· Menulis
laporan/puisi/cerita
· Berkunjung
keluar kelas
|
|
Guru menggunakan
alat bantu dan sumber belajar yang beragam
|
Sesuai mata pelajaran guru menggunakan misalnya:
· Alat yang tersedia/dibuat sendiri
· Gambar
· Studi
Kasus
· Nara Sumber
· Lingkungan
|
|
Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan
|
Siswa:
·
Melakukan
percobaan, pengamatan atau wawancara
·
Mengumpulkan data atau jawaban dan mengolahnya sendiri
· Menarik
kesimpulan
·
Memecahkan
masalah atau mencari rumus sendiri
·
Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri
|
|
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasan secara
lisan atau tulisan
|
Melalui:
· Diskusi
· Lebih banyak pertanyaan terbuka
· Hasil
karya yang merupakan pemikiran anak sendiri
|
|
Guru menyesuaikan
bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa
|
· Siswa
dikelompok sesuai dengan kemampuan (untuk tugas/kegiatan tertentu)
· Bahan
belajar disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut
· Tugas
perbaikan atau pengayaan diberikan
|
|
Guru mengkaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari
|
· Siswa menceritakan atau memanfaatkan
pengalaman sendiri
· Siswa menerapkan hal yang dipelajari
dalam kegiatan sehari-hari
|
|
Menilai KBM dan kemajuan siswa secara terus menerus
|
ü Guru
memantau kerja siswa
ü Guru
memberikan umpan balik
|
3. Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM, PAIKEM
Apa yang harus diperhatikan dalam
melaksanakan PAKEM?
a) Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan
berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak
Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal terlahir memiliki
kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya
sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu
lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat
anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru
memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang,
dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan
pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud
b) Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan
memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus
tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu
mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan
belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk
membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak,
kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar
secara optimal.
c) Memanfaatkan perilaku anak dalam
pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain
berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan
dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu,
anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman,
anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk
seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun
demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat
individunya berkembang.
d) Mengembangkan kemampuan
berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut
memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis
masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis
berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan
imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas
guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya memberikan
tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan
kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan
kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya
satu).
e) Mengembangkan ruang kelas sebagai
lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan
dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang
kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan
memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa
lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau
kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli,
puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil
pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena
dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
f) Memanfaatkan lingkungan
sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang
sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media
belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan
lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam
belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas.
Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan
waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti
mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan,
berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
g) Memberikan umpan balik yang baik
untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam
belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu
bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap
kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun
harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam
menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa
hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru
berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa
daripada hanya sekedar angka.
h) Membedakan antara aktif fisik dan
aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa
kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur
berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah
ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif
fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan
gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental
adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan,
atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan
penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun
dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEM.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar